Kamis, 28 Mei 2015

Distribusi Frekuensi

Hai semua!
Kali ini saya akan berbagi sedikit ilmu tentang distribusi frekuensi. sebelumnya, apa sih distribusi frekuensi itu? nah untuk menjawabnya simak pengertian distribusi frekuensi menurut beberapa ahli. 
Distribusi frekuensi adalah data acak yang dikelompokkan ke dalam kelas lalu dihitung banyaknya pengamatan, dan disusun dalam bentuk tabel. Data yang disajikan dalam bentuk sebaran frekuensi dikatakan sebagai data yang telah dikelompokkan. Mengelompokkan data contoh kedalam selang-selang dapat memperoleh gambaran yang lebih baik mengenai populasi yang belum diketahui. Akan tetapi, dengan cara ini kita kehilangan identitas masing-masing pengamatan dalam contoh itu. Distribusi frekuensi umumnya disajikan dalam bentuk daftar yang berisi interval kelas dan jumlah objek (frekuensi) yang termasuk dalam kelas interval tersebut (Walpole, 1992).
Data yang telah diperoleh dari suatu penelitian yang masih berupa data acak atau data mentah dapat dibuat menjadi data yang berkelompok, yaitu data yang telah disusun ke dalam kelas-kelas tertentu. Daftar yang memuat data berkelompok disebut distribusi frekuensi atau tabel frekuensi. Jadi, distribusi frekuensi adalah susunan data menurut kelas-kelas interval tertentu atau menurut kategori tertentu dalam sebuah daftar (Hasan, 2001).
Setelah mengetahui pengertian distribusi frekuensi selanjutnya adalah bagian-bagian dari tabel distribusi frekuensi. Berikut bagian-bagian dari sebuah tabel distribusi frekuensi.
1. Kelas-Kelas (Class)
    Kelas adalah kelompok nilai data atau variabel.
2. Batas Kelas (Class Limits)
    Batas kelas adalah nilai-nilai yang membatasi kelas yang satu dengan kelas yang lain. Terdapat dua batas       kelas, yaitu:
    a. Batas kelas bawah (Lower Class Limits), terdapat di deretan sebelah kiri setiap kelas.
    b. Batas kelas atas (Upper Class Limits), terdapat di deretan sebelah kanan setiap kelas.
    Batas kelas merupakan batas semu dari setiap kelas, karena di antara kelas yang satu dengan kelas yang       lain masih terdapat lubang tempat-tempat angka-angka tertentu.
3. Tepi Kelas (Class Boundary)
    Tepi kelas disebut juga batas nyata kelas, yaitu batas kelas yang tidak memiliki lubang untuk angka               tertentu antara kelas yang satu dengan kelas yang lain. Terdapat dua tepi kelas, yaitu:
    a. Tepi bawah kelas atau batas kelas bawah sebenarnya, ialah batas bawah kelas dikurang 0,5.
    b. Tepi atas kelas atau batas kelas atas sebenarnya, ialah batas atas kelas ditambah 0,5.
4. Titik Tengah Kelas atau Tanda Kelas (Class Midpoint, Class Marks)
    Titik tengah kelas adalah angka atau nilai data yang tepat terletak di tengah suatu kelas. Titik tengah kelas     merupakan nilai yang mewakili kelasnya. 
    Titik tengah kelas = ½ (batas atas + batas bawah)kelas 
5. Interval Kelas (Class Interval)
    Interval kelas adalah selang yang memisahkan kelas yang satu dengan kelas yang lain.
6. Panjang Interval Kelas atau Luas Kelas (Interval Size)
    Panjang interval kelas adalah jarak antara tepi atas kelas dan tepi bawah kelas.
7. Frekuensi Kelas
    Frekuensi kelas adalah banyaknya data yang termasuk ke dalam kelas tertentu. 

Setelah bagian-bagian tabel distribusi telah diketahui, selanjutnya adalah membuat tabel distribusi frekuensinya. Berikut merupakan langkah-langkah penyusunan tabel distribusi frekuensi :
1. Mengurutkan data dari yang terkecil sampai yang terbesar.
2. Menentukan jangkauan (range) dari data. 
    Range (R) = data terbesar – data terkecil 
3. Menentukan banyaknya kelas (k) 
    Banyaknya kelas ditentukan dengan rumus sturgess: 
    k =  1 + 3,3 log n 
    Keterangan:
    k = Jumlah kelas
    n = Banyaknya data
    Hasilnya dibulatkan, biasanya ke atas.
4. Menghitung panjang interval kelas (i) 
    Panjang interval kelas (i) =  R : k
5. Menentukan batas bawah kelas pertama atau memilih data yang terkecil. 
    Setelah itu dilanjutkan menghitung kelas interval, dengan cara menjumlahkan ujung bawah kelas ditambah       panjang kelas (i) dan hasilnya dikurangi 1 sampai pada data yang dikehendaki.
6. Membuat tabel distribusi frekuensi kelas secara melidi dalam kolom turus sesuai banyaknya data.                   
Jenis–Jenis Distribusi Frekuensi
Pada perhitungan distribusi frekuensi terdapat pembagian-pembagian jenis yang tergantung pada kebutuhan dalam penyajian data. Maka distribusi frekuensi dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu distribusi frekuensi biasa, distribusi frekuensi relatif, dan distribusi frekuensi kumulatif.
1. Distribusi Frekuensi Biasa 
    Distribusi Frekuensi Biasa adalah distribusi frekuensi yang hanya berisikan jumlah frekuensi dari setiap           kelompok data atau kelas. Ada dua jenis distribusi frekuensi biasa:
   A. Distribusi Frekuensi Numerik
       Distribusi frekuensi numerik adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelasnya dinyatakan dalam                angka.
   B. Distribusi Frekuensi Peristiwa atau Kategori
       Distribusi frekuensi peristiwa atau kategori adalah distribusi frekuensi yang pembagian kelasnya                      dinyatakan berdasarkan data atau golongan data yang ada.
2. Distribusi Frekuensi Relatif
    Distribusi frekuensi relatif adalah distribusi frekuensi yang berisikan nilai-nilai hasil bagi antara frekuensi           kelas (fi) dengan jumlah pengamatan yang terkandung dalam kumpulan data yang berdistribusi tertentu          (∑f) lalu dikalikan dengan 100%. Frekuensi relatif kadang-kadang dinyatakan dalam bentuk perbandingan,    desimal, ataupun persen.
3.  Distribusi Frekuensi Kumulatif
     Distribusi frekuensi kumulatif adalah distribusi frekuensi yang berisikan frekuensi kumulatif, yaitu frekuensi      yang dijumlahkan. Distribusi frekuensi kumulatif memiliki grafik atau kurva yang disebut ogif. Pada ogif          dicantumkan frekuensi kumulatifnya dan digunakan nilai batas kelas. Ada dua macam distribusi frekuensi        kumulatif, yaitu distribusi frekuensi kumulatif kurang dari dan distribusi frekuensi lebih dari.
     a. Distribusi Frekuensi Kumulatif Kurang Dari
         Distribusi frekuensi kumulatif kurang dari adalah distribusi frekuensi yang memuat jumlah frekuensi                yang memiliki nilai kurang dari batas kelas suatu interval tertentu.
     b. Distribusi Frekuensi Kumulatif Lebih Dari
         Distribusi frekuensi kumulatif lebih dari adalah distribusi frekuensi yang memuat jumlah frekuensi yang            memiliki nilai lebih dari batas kelas suatu interval tertentu.
Mungkin hanya sekian dulu dari saya, disambung lagi lain kali, hhe.

Senin, 04 Mei 2015

MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL



MUSEUM KEBANGKITAN NASIONAL
1.         Sejarah Gedung Museum Kebangkitan Nasional
1.1       Sebelum Proklamasi
Museum Kebangkitan Nasional berada pada sebuah komplek bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Gedung nan megah menempati areal yang cukup luas dengan fungsinya pun berbeda-beda pada kurun waktu sesuai dengan pemerintahan yang berkuasa pada masanya mulai dari masa pemerintahan Hindia Belanda hingga sekarang.
Gedung tersebut dibangun pada tahun 1899, awal keberadaannya pada masa pemerintahan Hindia Belanda dipergunakan sebagai pendidikan Sekolah Dokter Djawa dan sekolah kedokteran bumiputera atau yang lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandsche Artsen) yang secara resmi dibuka pada tahun 1902 juga terdapat asrama didalamnya untuk para pelajar yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara dan diharuskan mengikuti selama 10 tahun. Dengan semakin berkembangnya sekolah kedokteran ini sehingga tempatnya pun sudah tidak memadai, maka pada tahun 1920 dipindah kejalan Salemba  (sekarang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), sedang bangunan STOVIA yang lama dipergunakan untuk asrama dan sekolah pendidikan lainnya seperti Sekolah Asisten Apotiker, MULO (setingkat SMP) dan AMS ( setingkat SMA). Dengan masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, mengakhiri pembangunan Gedung STOVIA sebagai tempat kegiatan pembelajaran. Pada tahun 1942-1945 saat pemerintahan Jepang bekuasa memfungsikan gedung Eks-STOVIA ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda.
1.2       Setelah Proklamasi
Pada masa proklamasi kemerdekaan indonesia 1945 sampai 1973,gedung Eks-STOVIA dimanfaatkan sebagai tempat hunian bagi bekas tentara KNIL Belanda yang berasal dari Ambon beserta keluarganya. Gedung STOVIA  menjadi salah satu tempat istimewa dalam sejarah perjalanan negeri ini,  karena menjadi saksi lahirnya organisasi-organisasi pergerakan kebangsaan yaitu Boedi Oetomo, Trikoro Dharmo (Jong Java), Jong minahasa dan Jong Ambon dan lain-lain. Di gedung ini juga beberapa tokoh pergerakan seperti Ki Hadjar Dewanrata, Tjipto Mangoenkoesoemo, R. Soetomo dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya pernah menimba ilmu.
Mengingat peristiwa-peristiwa sejarah penting pernah terjadi di gedung ini, maka ada upaya untuk melestarikan gedung ini sebagai gedung bersejarah. Pada tahun 1973 Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemugaran bangunan secara keseluruhan. Bangunan gedung Eks-STOVIA yang sudah beralih fungsi sebagai hunian tempat tinggal, dikembalikan kondisinya seperti pada saat menjadi sekolah dokter bumiputera. Sedangkan masyarakat atau keluarga Ambon yang sempat menghuni gedung ini dipindahkan dan ditampung dikompleks perumahan di daerah Cengkareng Jakarta Barat.  
Kegiatan pemugaran dan renovasi gedung Eks-STOVIA oleh pemerintah daerah provinsi DKI Jakarta selesai dalam waktu satu tahun. Pada 20 Mei 1974 presiden Soeharto meresmikan penggunaan Gedung Eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan  Nasional” yang selanjutnya pengelolaan dilaksanakan oleh pemerintahan Daerah provinsi DKI Jakarta.
Sejak diresmikannya Gedung kebangkitan Nasional, didalamnya deselanggarakan beberapa museum yaitu Museum Pers, Museum Wanita Dan Museum Boedi Oetomo. Juga dimanfaatkan untuk perkantoran-perkantoran swasta  atau yayasan, antara lain oleh kantor Yayasan Pembela tanah Air (YAPETA), Perpustakaan Yayasan Idayu, Yayasan Perintis Kemerdekaan dan Lembaga Perpustakaan Dokumentasi Indonesia.
Karena di dalam Gedung Kebangkitan Nasional ini pernah terjadi peristiwa sejarah yang sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia, mendorong Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta pada 27 September 1982 mengalihkan pengelolaan gedung ini ke pemerintah Pusat yaitu melalui Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan. Kondisi Gedung Kebangkitan Nasional yang kokoh dengan usianya yang cukup lama serta memiliki nilai sejarah dan nilai aristik,maka pada 12 Desember 1983 Pemerintah menetapkan gedung ini sebagai Benda Cagar Budaya. Penetapan ini membawa konsekuensi gedung ini harus tetap dilestarikan, dipelihara, dan tidak boleh dirombak.
Pada 17 Februari 1984 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Pendidiikan dan Kebudayaan Nomor 03/0/1984 tentang Struktur organisasi dan tata kerja penyelenggaraan museum di dalam Gedung Kebagkitan Nasional dengan nama Museum Kebangkitan Nasional.
            Guna memfungsikan gedung Kebangkitan Nasional sebagai museum, maka museum-museum yang ada yaitu Museum Boedi Oetomo, Museum Kesehatan, Museum Pers dan museum Wanita dilebur menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Dalam Pengembangan selanjutnya kantor-kantor swasta yang terdapat di dalam gedung dipindah ke luar gedung, dan ruangan perkantoran yang sudah kosong tersebut dipergunakan untuk pengembangan pameran tetap museum.
Sehubungan dengan adanya transisi organisasi dibidang kebudayaan, pada 13 Desember 2001 kemudian menjadi Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata sehingga berpengaruh terhadap unit di bawahnya termasuk UPT Museum Kebangkitan Nasional. Dengan demikian Museum Kebangkitan Nasional merupakan  Unit Pelaksana Teknik dari Kementrian,Kebudayaan,dan pariwisata di bawah Direktorat Jenderal Sejarah Dan Purbakala yang teknis pembinaannya berada dibawah Direktorat Museum, hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor:P.32/OT.001/MKP-2006 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Museum Kebangkitan Nasional.
1.3      Awal Berdirinya Pendidikan Kedokteran
Keberadaan Museum Kebangkitan Nasional tidak dapat dilepaskan dari awal keberadaan  pendidikan kedokteran di Indonesia. Awal berdirinya pendidikan kedokteran tersebut ada kaitannya dengan tersebarnya wabah penyakit menular pada 1847 di daerah Banyumas dan Purwokerto. Wabah penyakit tersebut seperti tipes, kolera, disentri dan lain-lain tidak dapat dibrantas oleh tenaga medis yang ada masa pemerintahan Hindia Belanda yang jumlahnya sangat terbatas, begitu juga dengan cara pengobatan yang telah ada pada waktu itu dengan cara tradisional, sehingga ada usul dari Kepala Jawatan Kesehatan yaitu Dr.  W. Bosch untuk mendidik beberapa anak Bumiputera menjadi pembantu dokter Belanda. Pada 1849 keluar keputusan Gubernemen yang menetapkan bahwa dirumah sakit militer akan dididik 30 pemuda Jawa dari keluarga baik-baik serta pandai menulis dan membaca bahasa Melayu dan Jawa untuk menjadi dokter pribumi dan “vaccinateur” (menteri cacar). Selesai pendidikan mereka harus bersedia masuk dinas pemerintahan sebagai menteri cacar.
Bulan Januari 1851 berdirilah Sekolah Dokter Jawa di Rumah Sakit Militer Weltevreden dengan masa pendidikan 2 tahun. Pendidikan diikuti 12 orang yang semuanya Berasal dari Pulau Jawa. Menteri pelajaran meliputi cara mencacar dan memberikan pertololongan pada penderita sakit panas dan sakit perut. Bahasa pengantar menggunakan bahasa Belanda.
Pada 5 Juni 1853 Sekolah Dokter Jawa meluluskan 11 pelajar dan menyandang gelar Dokter Jawa. Mereka dipekerjakan sebagai menteri cacar, diperbantukan di Rumah Sakit dan membantu dokter militer merangkap dokter sipil. 
Sejak tahun 1856 Sekolah Dokter Jawa mulai menerima murid yang berasal dari luar Pulau Jawa, yaitu  dari Minangkabau (Sumatera) 2 orantg dan Minahasa (Sulawesi) 2 orang. Tahun 1864 lama pendidikan Sekolah Dokter Jawa ditingkatkan dari 2 tahun menjadi 3 tahun dengan jumlah siswa dibatasi 50 orang. Perubahan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas para dokter sehingga mampu bekerja sendiri dibawah pengawasan dokter Belanda dan Kepala Pemerintahan Daerah. Namun pengabdian para dokter lulusan Sekolah Dokter Jawa di masyarakat mendapatkan penolakan dari beberapa dokter Belanda, sehingga sejak tahun 1864 pemerintah kolonial mencabut wewenang praktek dokternya, dan memperkerjakan mereka sebagai mantri cacar. Perubahan besar terjadi pada tahun 1875 karena lama pendidikannya ditingkatkan menjadi 7 tahun, dengan jumlah murid 100 orang.
1.4       Berdirinya STOVIA
Tahun 1899 atas usul Dr.  H.F Roll dibangun gedung baru. Pembangunan gedung ini mendapatkan bantuan dari 3 orang pengusaha Belanda dari Deli yaitu, P.W Janssen, J. Nienhuys dan H.C van den Honert. Bulan September 1901 di Betawi muncul wabah penyakit beri-beri dan kolera dan juga menimpa para pelajar Sekolah Dokter Jawa, sehingga pemindahan pelajar dari rumah sakit militer Weltevreden ke gedung baru di Hospitaalweg tertunda.
               Pada 1 Maret 1902 gedung baru tersebut mulai resmi digunakan untuk STOVIA (School Tot Opleiding Van Indlandsche Artsen) yaitu Sekolah Kedokteran untuk Bumiputera. Munculnya STOVIA menandai berakhirnya Sekolah Dokter Jawa. Selama menjalani pendidikan, pelajar STOVIA diharuskan tinggal didalam asrama yang menerapkan sikap disiplin dan tanggung jawab yang ketat. Jadwal kegiatan sudah ditentukan dari pagi sampai malam hari, bagi mereka yang melanggar ketentuan akan mendapatkan hukuman sesuai dengasn kesalahan yang diperbuatnya. Pelajar yang masuk ke STOVIA diwajibkan membuat surat perjanjian (acte van verband). Isi surat tersebut akan mengikat lulusan STOVIA untuk bekerja pada dinas pemerintah selama 10 tahun berturut-turut, dimana tenaganya diperlukan. Kalau tidak, ia bersama orang tua atau walinya akan mengembalikan biaya pendidkan selam 9 tahun pada pemerintah. Namun, pada perjanjian tersebut merisaukan dan memberatkan pelajar-pelajar masih melangsungkan pendidkannya sehingga diantara mereka banyak yang berhenti dan sekolahpun kekurangan murid, sehingga surat perjanjian tersebut ditinjau kembali dan akhirnya ketentuan itu hanya diberlakukan pada pelajar yang baru diterima. Setelah itu proses pendidikan pun berlangsung normal kembali. Pada 1909 STOVIA berhasil meluluskan muridnya, buat mereka yang mengakhiri pendidikan dengan baik di STOVIA tidak lagi bergelar dokter jawa melainkan Inlandsche Arts (Dokter Bumiputera). Mereka berwenang memperaktekan ilmu kedokteran seluruhnya termasuk kebidanan. Jumlah pelajar STOVIA terus bertambah dan untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman, maka perlu dibangun gedung baru sebagai tempat pendidikan dan praktek pelajar STOVIA. Tahun 1919 berdiri rumah sakit Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting di Salemba yang dipimpin oleh Dr. Hulskoff. Dirumah sakt inilah dijadikan sebagai tempat praktek pelajar STOVIA karena sarana dan prasaranannya lebih lengkap dan modern.
Pada 5 Juli 1920 secara resmi seluruh kegiatan pendidikan STOVIA dipindahkan ke jalan Salemba yang sampai sekarang dikenal dengan “Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia’’. Sedangkan STOVIA lama dipergunakan untuk asrama pelajar. Pada 1925 gedung STOVIA lama tidak lagi dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran Sekolah Kedokteran Bumiputra, tapi menjadi tempat  pendidikan untuk MULO (setingkat SMP), AMS (setingkat SMA) dan sekolah Apoteker. Dan Masuknya bala tentara Jepang pada tahun 1942 mengakhiri penggunaan Gedung STOVIA sebagai tempat kegiatan belajar mengajar.
2.        Kunjungan ke Museum Kebangkitan Nasional
-Rabu, 22 April 2015-
Kelompok 4 melakukan kunjungan ke tempat situs sejarah yaitu Museum Kebangkitan Nasional pada hari Rabu, 22 April 2015. Kelompok 4 terdiri dari Agung Satria Arfana, Encep Suhendar, Ines Adi Putra, Rizki Nuzul, Royman Simarangkir, Siti Hartinah, dan Tia Febrita. Museum Kebangkitan Nasional berlokasi di pusat perkotaan dan letaknya strategis, berdekatan denga Atrium Senen Mall, Terminal dan Stasiun Senen, Tugu Tani, Monumen Nasional dan lain-lain tepatnya berlokasi di Jalan Dr. Abdul Rahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat dengan lintasan jalan protokol arah selatan jalan Kwitang dan arah timur jalan Senen Raya. Untuk menuju ke lokasi Museum Kebangkitan Nasional, kami menggunakan KRL Commuter Line. Kami berangkat pukul 12.05 dari stasiun Pondok Cina lalu naik KRL Commuter Line jurusan Jakarta Kota dan turun di stasiun Cikini. Perjalanan menuju stasiun Cikini hanya memakan waktu sekitar 30 menit dan Kami tiba di stasiun Cikini sekitar pukul 12.35 WIB. Ongkos yang diperlukan untuk satu kali perjalanan kereta sebesar Rp 2.000.





Setibanya di stasiun Cikini, kami harus menyambung metro mini P17 dan turun di dekat halte busway Senen lalu jalan kaki sekitar 300 meter arah Atrium Senen Mall. Ongkos yang diperlukan untuk satu kali perjalanan dengan menggunakan metro mini sebesar Rp 4.000 dan total waktu yang diperlukan untuk tiba di Museum Kebangkitan Nasional sekitar 1 jam.
-Pukul 13.00 WIB-
Kami tiba di Museum Kebangkitan Nasional pukul 13.00 WIB. Museum Kebangkitan Nasional dijaga oleh dua orang penjaga yang berjaga di dekat pintu masuk. Museum ini buka setiap hari kecuali hari senin dan hari besar, dari pukul 08.30 – 15.00 kecuali pada weekend, museum ini tutup pukul 14.00 WIB. 


Kami harus membeli tiket terlebih dahulu sebelum berkeliling di Museum Kebangkitan Nasional. Harga tiketnya sebesar Rp 2.000 sudah termasuk buku panduan dan bollpoint. Berikut ini adalah tiket dan maket Museum Kebangkitan Nasional :


Museum Kebangkitan Nasional mempunyai beberapa ruangan pameran tetap yang disusun  secara kronologis berdasarkan periodesasi dan tematik sehingga memudahkan kami dalam memahami makna dan pesan dari koleksi yang dipamerkan. Ruangan-ruangan tersebut terbagi menjadi ruang pengenalan, ruang sebelum pergerakan nasional, ruang awal kesadaran nasional, ruang pergerakan nasional, dan ruang-ruang tematik seperti ruang pendidikan STOVIA, ruang dosen STOVIA, ruang peragaan kelas STOVIA, dan ruang peragaan kelas Kartini. Kami tidak memasuki semua ruangan di atas karena keterbatasan waktu. Selain itu, museum ini juga dilengkapi oleh taman yang bersih dan terawat serta kantin yang menjual berbagai makanan dan souvenir.
Kami berkeliling mulai dari ruangan pengenalan, yaitu ruangan yang menggambarkan perjalanan sejarah bangsa Indonesia dari masa kedatangan Eropa, munculnya perlawanan lokal, masa pergerakan bangsa Indonesia sampai dengan tercapainya perjuangan bangsa pada tanggal 17 Agustus 1945. Selanjutnya adalah ruang sebelum pergerakan nasional, yaitu ruangan yang menampilkan koleksi lukisan dari penderitaan akibat kolonialisme dan perjuangan rakyat dalam melawan kolonialisme. Setelah itu, dilanjutkan dengan mengelilingi ruang awal kesadaran nasional, yaitu ruangan yang menampilkan penjelasan tentang penerapan politik etis di Indonesia oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda dan perjuangan bangsa Indonesia untuk membebaskan diri dari penjajahan yang dimulai dengan propaganda tentang pentingnya pendidikan sebagai sarana untuk merubah nasib diri dan bangsanya. Tokoh yang mendukung aksi tersebut adalah Wahidin Sudirohusodo, seorang lulusan dokter jawa dan juga pensiunan guru yang melakukan langkah nyata dengan mengelilingi Pulau Jawa dalam rangka menyosialisasikan studiefonds, yaitu dana belajar yang diperuntukan bagi pelajar yang kurang mampu. Berikut ini merupakan foto-foto yang kami ambil di dalam ruang pengenalan, ruang sebelum pergerakan nasional, dan ruang awal kesadaran nasional.





Selanjutnya Kami mengelilingi ruang pergerakan nasional, yaitu ruangan yang menampilkan penjelasan dari lahirnya Organisasi Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 di STOVIA, yang merupakan titik awal pergerakan nasional. Organisasi Boedi Oetomo menjadi inspirator dan inisiator bagi organisasi-organisasi pergerakan nasional lainnya. Organisasi-organisasi pada masa pergerakan berjuang dalam berbagai bidang yang berbeda tetapi saling melengkapi. Organisasi Boedi Oetomo berjuang dalam lapangan sosial, budaya dan pendidikan, Sarekat Dagang Islam berjuang dalam mengembangkan ekonomi rakyat sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi ekonomi asing, Indische Partij berjuang dalam kancah politik, Indische Vereeninging berjuang di luar negeri dalam bidang pendidikan dan politik, serta Muhammadiyah yang berjuang dalam bidang pendidikan, sosial, dan kesehatan. Posisi Boedi Oetomo sebagai perintis Kebangkitan Nasional mendorong pemerintah menjadikan hari lahirnya pada tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional yang diperingati sejak tahun 1948. Ruangan ini memiliki patung tokoh-tokoh Organisasi Boedi Oetomo, seperti Soetomo di dalamnya. Berikut merupakan foto-foto yang kami ambil dalam ruang pergerakan nasional.






Ruangan yang Kami kunjungi selanjutnya adalah ruang-ruang tematik. Ruang tematik adalah suatu ruangan yang menggambarkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di gedung ini. Ruang tematik terdiri dari ruang pendidikan STOVIA, yaitu ruangan yang menampilkan informasi tentang perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia, mulai dari yang melatar belakangi munculnya pendidikan kedokteran hingga perkembangannya sampai sekitar Proklamasi Kemerdekaan; ruang dosen STOVIA, yaitu ruangan yang menampilkan diorama suasana diskusi dosen-dosen STOVIA dalam membahas Soetomo dan pelajar STOVIA lainnya yang mendirikan organisasi Boedi Oetomo; ruang peragaan kelas STOVIA, yaitu ruangan yang menampilkan proses kegiatan belajar mengajar pada masa STOVIA yang divisualisasikan secara utuh untuk menggambarkan suasana pada saat itu; dan ruang peragaan kelas Kartini, yaitu ruangan yang menampilkan diorama kelas Kartini yang menggambarkan perjuangan Kartini dalam memberikan pendidikan kepada kaum hawa. Sayangnya, tidak semua ruang tematik dapat kami kunjungi karena keterbatasan waktu dan ada sebagian ruang tematik yang hanya dibuka pada hari tertentu. Berikut merupakan foto-foto yang kami ambil di dalam ruang-ruang tematik.






 Setelah berkeliling selama 45 menitan, kami memutuskan beristirahat sebentar lalu shalat. Museum Kebangkitan Nasional mempunyai taman yang bersih dan terawat, akan tetapi, kondisi mushola dan toilet tidak terlalu diperhatikan oleh petugas, terlihat dari toilet yang kurang bersih dan tidak tersedianya mukena yang memadai untuk pengunjung pada mushola wanita. Berikut merupakan foto-foto keadaan taman dan mushola.


 
  
Kami melanjutkan untuk berkeliling setelah melaksanakan shalat. Ruangan yang menjadi sasaran kami selajutnya adalah ruang STOVIA, yaitu ruangan yang menampilkan peralatan-peralatan kedokteran pada masa itu, seperti alat rontgen, alat pemecah kepala yang digunakan untuk mempelajari dan memperdalam pengetahuan mahasiswa/i STOVIA tentang isi kepala manusia terutama otak, elektroradiograf atau alat pencatat detak jantung, boteka atau tempat untuk menyimpan racikan obat, dan lain-lain yang akan kami perlihatkan fotonya di bawah ini. Selain itu, di ruangan ini juga ditampilkan biola dengan alat geseknya milik R. Maryono.
   
  
  
  
  
  
  
Tepat pukul 15.00 kami selesai mengelilingi Museum Kebangkitan Nasional. Menurut kami, Museum Kebangkitan Nasional merupakan situs sejarah yang wajib dikunjungi, terutama untuk mahasiswa/mahasiswi yang mengambil jurusan kedokteran karena selain terdapat sejarah tentang pendidikan kedokteran di Indonesia, museum tersebut juga bersih, terawat, dan nyaman untuk melakukan kunjungan. Sebelum kami pulang ke rumah masing-masing, kami makan dulu di suatu tempat makan di pinggir jalan, setelah itu kami berjalan kaki menuju stasiun Gondangdia dan pulang ke rumah masing-masing. Demikianlah pengalaman kami saat mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional, kami sangat senang karena kami bisa mendapatkan pengetahuan lebih tentang sejarah pendidikan di Indonesia

Senin, 05 Januari 2015

tugas ibd: cerita hidupku



KISAH HIDUPKU

ENCEP SUHENDAR





Nama saya Encep Suhendar.Saya dilahirkan di sebuah desa di kaki pegunungan, tepatnya di Kampung Genteng RT 06/06 Desa Lembursawah Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi. Saya merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Kakak dan adik saya semuanya perempuan, jadi saya merupakan anak laki-laki satu-satunya di keluarga saya. Sebenarnya saya mempunyai kakak laki-laki, tetapi meninggal ketika masih kecil. Saya hidup dan dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayah saya hanya seorang buruh, kadang menjadi buruh bangunan, bekeja di mebeul, kadang juga bekerja menjadi buruh tani di sawah orang, tergantung ada pekerjaannya saja. Sedangkan ibu saya hanya seorang iubu rumah tangga, walaupun kadang-kadang menjadi buruh tani di sawah orang untuk menambah biaya hidup. Kakak-kakak saya sudah menikah semua, sedangkan adik-adik saya masih bersekolah. Adik saya yang satu sudah kelas sepuluh di sebuah SMK swasta dan yang satunya lagi masih kelas lima di SD negeri yang jaraknya lumayan jauh dari rumah.
Saya dibesarkan oleh kedua orang tua saya dengan penuh kasih sayang tanpa membedakan antara saya dengan kakak ataupun adik saya. Ketika saya kecil orang tua saya selalu mengajari saya berbagai ilmu yang mereka punya, walaupun ibu dan ayah saya tidak tamat sekolah dasar. Tetapi mereka selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.Selain orang tua saya yang mengajari saya, kakak-kakak saya pun mengajari saya membaca, menulis, berhitung dan apapun yang mereka tahu. Alhasil, sebelum saya masuk ke sekolah dasar saya sudah bisa menulis, membaca dan berhitung. Orang tua saya tidak memasukkan saya ke TK, karena di desa saya kebanyakan anak-anak langsung masuk ke sekolah dasar. Selain itu juga saya dimasukkan ke pengajian yang ada di rumah tetangga saya.
Sebelum saya masuk ke sekolah dasar, ibu saya memasukkan saya sekolah di MDA (Madrasah Diniyah Awaliyah) Albarokah yang tidak jauh dari rumah saya. Disana saya diajarkan berbagai macam ilmu agama, dari  macam-macam do’a, tata cara ibadah, dan banyak yang lainnya. Ketika pertama kali masuk ke kelas saya merasa bingung karena banyak orang dan saya tidak mengenali mereka. Untung saja ternyata ada teman saya yang juga bersekolah disana dan saya duduk dengannya. Di MDA ini saya mempunyai teman yang baru, biasanya sebelum masuk kelas, saya dan teman-teman selalu jajan dulu di warung dekat sekolah. Biasanya kami membeli es, coklat, permen, cilok, dan makanan lainnya yang ada di warung. Setelah itu, barulah kami masuk kelas dan belajar dengan semangat. Setelah selesai belajar, kamipun pergi ke masjid untuk shalat ashar berjamaah dan setelah itu barulah kami pulang bersama.Karena banyak teman saya yang jalan pulangnya searah dengan rumah saya, akhirnya saya selalu pulang bersama dengan teman yang rumahnya searah. Kami biasanya pulang melewati pematang sawah yang terhampar luas dan kami biasanya main dulu di sawah itu. Tetapi jika turun hujan atau saawahnya sudah dibajak kami pulang melewati jalan yang sudah diaspal walaupun sudah bolong-bolong dan setiap ada kendaraan yang lewat, pasti kami terkena muncratan air baik sedikit maupun banyak.
Setelah beberapa bulan saya bersekolah di MDA, saya pun masuk ke sekolah dasar. Ibu saya memasukkan saya ke SDN 1 Lembursawah. Jaraknya sih lumayan jauh dengan rumah saya, apalagi saya harus jalan kaki melewati sawah, dan jalan yang masih tanah dan pasti becek kalau turun hujan.Akan tetapi saya senang bisa bersekolah di sekolah tersebut. Karena teman-teman saya yang lain juga bersekolah disana. Ketika pertama kali saya masuk ke sekolah dasar, saya diantar oleh ibu saya ke sekolah. Sedangkan hari kedua dan seterusnya saya berangkat bersama kakak dan teman-teman saya yang lain. Sekolah saya berada di dekat jalan raya, sehingga ketika berangkat ke sekolah saya harus menyebranginya dahulu.
Karena ruangan kelas di sekolah kami kurang, akhirnya di kelas satu ini kelas dibagi menjadi dua, yaitu kelas 1a dan kelas 1b. Kelas 1a masuk sekolahnya pagi yaitu dari pukul tujuh sampai pukul setengah sepuluh sedangkan kelas 1b masuknya siang yaitu pukul setengah sepuluh sampai pukul dua belas, pada minggu pertama. Ketika minggu kedua barulah digilir, kelas 1a menjadi siang sedangkan kelas 1b masuk pagi. Begitupun minggu-minggu selanjutnya. Kebetulan saya mendapat kelas 1a sehingga minggu pertama saya masuknya pagi. Waktu itu saya duduk bersama teman saya yaitu Aris dan Irwan. Kami duduk bertiga karena meja dan kursi kelas kami kurang. Ketika di kelas satu ini, saya mencoba untuk rajin belajar agar bisa membanggakan orang tua saya. Dimana saya selalu rajin berangkat ke sekolah, dan patuh kepada guru saya. Ketika ulangan saya selalu mendapat nilai yang memuaskan, begitupula ketika saya mengikuti ulangan kenaikan kelas saya mendapat nilai yang memuaskan. Ketika acara kenaikan kelas, nama saya dipanggil karena saya masuk dalam tiga besar juara kelas. Ketika itu juga saya naik ke atas panggung dan mendapat hadiah dari sekolah. Dengan perasaan gembira saya memberikannya kepada ibu saya dan sepertinya ibu saya pun merasakan hal yang sama dengan saya.
Ketika liburan sekolah, saya tidak pergi kemana-mana hanya bermain di rumah saja bersama teman-teman saya. Kadang kami bermain petak umpet, bermain ke pegunungan, mencari ikan, mandi di sungai, dan semua hal yang menyenangkan yang bisa saya lakukan bersama teman-teman saya waktu itu.Selain itu, saya juga kadang ikut ayah saya bekerja membangun rumah orang lain, atau ikut ibu saya ke sawah. Rasanya senang sekali apalagi kalau naik ke pegunungan dan mencari buah atau kayu bakar.
Ketika liburan sekolah telah selesai, saya pun kembali masuk sekolah dan masuk ke kelas dua. Awal masuk di kelas dua, seperti biasa hanya perkenalan, pemberian buku tabungan dan pembagian kelas. Saya mendapat kelas 2a dan masuk pagi di minggu pertama. Kemudian hari kedua dan selanjutnya belajar seperti biasa. Setelah beberapa bulan berada di kelas dua, bulan Ramadhan pun tiba. Seperti muslim lainnya, saya pun ikut berpuasa. Walaupun saya masih kecil, tapi orang tua saya mengajarkan saya untuk berpuasa. Karena ketika saya kelas satupun, saya juga pernah berpuasa tetapi hanya tiga hari saja saya berpuasa penuh sampai maghrib. Oleh karena itu, karena saya sudah naik ke kelas dua berarti saya juga harus berpuasa lebih bagus dari tahun sebelumnya. Hari pertama saya berpuasa, saya merasa lapar sekali, sehingga ketika waktu dzuhur saya pun berbuka. Hari kedua, saya mulai merasa kuat untuk berpuasa. Sehingga ketika waktu ashar tiba, saya ikut dengan kakak saya untuk ngabuburit ke rel kereta api. Karena setiap bulan Ramadhan pasti di rel kereta banyak orang, selain itu banyak juga pedagang.Setelah sebulan lamanya berpuasa, akhirnya hari raya pun tiba. Walaupun saya tidak berpuasa satu bulan penuh, tetapi setidaknya saya hanya bocor puasa tiga kali saja.
Setelah libur idul fitri saya pun kembali masuk sekolah dan bertemu dengan teman-teman lagi. Ketika kelas dua ini, saya jarang sekolah karena saya sering sakit-sakitan. Walaupun begitu saya tetap semangat untuk belajar, sehingga ketika hari kenaikan kelas saya kembali dipanggil karena saya masuk tiga besar juara kelas lagi dan naik ke kelas tiga. Tetapi waktu itu saya tidak bisa datang ke sekolah karena ibu saya tidak mempunyai uang.Karena sudah pasti ketika hari kenaikan kelas di sekolah banyak pedagang yang menjajakan dagangannya. Oleh karena itu, ibu saya lebih baik tidak datang daripada harus melihat saya bersedih karena tidak bisa membeli mainan ataupun mainan seperti teman-teman saya yang lain. Akhirnya kakak saya yang mengambil buku raport saya.
Liburan semester kali inipun masih sama dengan liburan sebelumnya, taka da yang berbeda. L
Setelah liburan itu, saya kembali masuk sekolah ke kelas 3. Di kelas 3 ini, kelas tidak dibagi menjadi dua, melainkan disatukan. Waktu itu banyak yang tidak saya kenal, karena ketika kelas dua berbeda kelas. Setelah masuk ke kelas, kemudian saya duduk di bangku yang sudah ada teman saya, yaitu  Kastubi dan Didi, mereka teman sekelas waktu di kelas dua. Setelah itu bu guru datang dan seperti biasanya ketika pertama masuk pertama hanya perkenalan dan memberi buku tabungan setelah itu istirahat. Waktu istirahat itu, saya berkenalan dengan teman-teman baru dan bermain bersama. Setelah bel berbunyi kami semua masuk ke kelas kembali kemudian menulis sedikit dan bu guru memberi kami PR untuk dikerjakan dan dibawa esok harinya. Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan saya pun pulang.
Setelah keluar dari kelas saya menunggu teman saya yang sudah duduk di kelas 4, yaitu Tomi, Agi, dan Deuis. Setelah mereka keluar, saya pulang bersama mereka karena rumah mereka dekat dengan rumah saya. Kami pulang melewati sawah yang sudah dipanen dan jeraminya sudah dibakar. Akhirnya kami ke sawah itu dulu dan mencari padi sisa yang sudah dibakar bersama jerami. Tak terasa ternyata waktu dzuhur telah tiba. Akhirnya kami pulang dengan sepatu yang kotor karena menginjak sisa pembakaran jerami yang hitam tadi.
Sesampainya di rumah, saya kemudian membuka sepatu, mandi dan berganti baju karena sebentar lagi berangkat ke MDA. Sebelum berangkat saya makan siang dulu dan sholat dzuhur. Kemudian saya pamitan kepada ibu saya, karena ayah saya sedang bekerja sehingga tidak ada di rumah. Kemudian saya ke rumah teman saya untuk berangkat bersama. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya saya berangkat dengan teman saya. Di perjalanan menuju ke madrasah, ternyata ada pamannya teman saya yang membawa motor dan mengajak kami berangkat bersamanya. Kamipun langsung naik ke motor itu, kemudian motor itu melaju dengan cukup kencang, sehingga tak perlu waktu lama untuk bisa sampai ke madrasah. Kami tiba di madrasah dengan selamat dan tak perlu capek-capek jalan kaki, hehe J.
Seperti biasanya saya jajan dulu di warung dekat madrasah. Ternyata disana sudah ada teman-teman saya yang lain akhirnya saya bergabung dengan teman saya dan sehabis saya jajan, saya dan teman-teman saya masuk ke kelas dan belajar. Kebetulan pelajarannya adalah Bahasa Arab, yaitu pelajaran yang saya dan teman-teman sukai sekali. Waktu pun tak terasa ternyata adzan Ashar sudah berkumandang, saya pun bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat ashar berjamaah. Setelah shalat berjamaah selesai, saya dan teman-teman yang lain pulang ke rumah masing-masing. Setelah beberapa meter berjalan dari madrasah, hujan pun turun. Saya dan teman-teman pun berteduh di depan rumah orang. Karena saya tidak membawa payung dan teman-teman pun juga sama,  dan bosan menunggu akhirnya saya dan teman-teman hujan-hujanan juga. Kami sangat senang sekali hujan-hujanan, hehe J. Setelah sampai rumah, saya langsung mandi dengan air hangat dan ganti baju kemudian makan. Tak lama kemudian hujan pun reda. Karena sebentar lagi adzan maghrib saya pun pergi ke masjid, dan di jalan saya bertemu dengan teman-teman kemudian kami berangkat bersama. Setelah shalat maghrib, saya dan teman-teman pergi ke rumah guru ngaji kami dan setelah selesai belajar mengaji kami pun pulang ke rumah masing-masing. Setelah sampai di rumah, saya mengerjakan PR dan menonton TV sebentar, kemudian saya pun tidur. Hari-hari berikutnya pun rutinitas saya masih sama seperti sebelumnya. Tetapi tiga bulan sebelum kenaikan kelas untuk kelas 3, diadakan TKD (Tes Kemampuan Dasar). Setelah itu barulah diadakan UKK.
Setelah beberapa bulan berada di kelas 3, akhirnya hari kenaikan kelas pun tiba. Pada hari kenaikan tahun ini, saya datang ke sekolah. Ternyata di sekolah sudah banyak sekali orang dan juga para pedagang. Acara kenaikan kelas pun dimulai dan ketika pembagian juara kelas , nama saya disebut lagi ternyata dan saya pun naik ke panggung. Rasanya bahagia sekali, hhe J
Liburan kali ini pun masih sama mungkin yang berbeda ketika liburan kali ini sawah sudah dibajak sehingga saya dan teman-teman bisa mencari tutut untuk dimasak dan dimakan bersama-sama.
Ketika liburan telah selesai saya pun kembali masuk ke sekolah dan tentunya masuk ke kelas 4. Pada kelas 4 ini saya mulai bosan, malas untuk ke sekolah dan sering bolos .Ya seperti tahun-tahun sebelumnya rutinitas saya masih sama. Tetapi pada pertengahan bulan November, ada lomba di sekolah yaitu lomba mengarang bebas. Lomba itu dikhususkan untuk kelas 4 dan semua anak yang ada di kelas 4 harus mengikutinya. Saya pun bingung kira-kira mengarang apa ya? Saya  belum menulis sedikitpun sementara teman yang lain sudah memulai, karena saya bingung harus menulis apa. Akhirnya saya  pun mulai menulis walaupun saya tidak yakin bisa menang. Setelah beberapa hari berlalu sejak lomba itu diadakan, tiba waktunya untuk pengumuman pemenang. Karena waktu itu listriknya sedang padam, akhirnya tidak memakai pengeras suara. Waktu itu saya tidak mendengarkan karena suara yang membacakannya pelan sekali. Dan ketika teman saya memanggil saya, ternyata dia memberitahu kalau nama saya disebut. Saya tidak percaya waktu itu, tetapi banyak teman yang menyuruh saya ke depan. Dan ternyata benar saya juara 3 lomba mengarang itu. Juara pertamanya itu Ulfa dan kedua Fikri. Kemudian saya mendapat hadiah dari guru saya, begitu juga dengan Ulfa dan Fikri.
Setelah beberapa bulan berada di kelas 4, hari kenaikan pun tiba. pada tahun ini saya tidak yakin bisa masuk tiga besar lagi, karena saya sering bolos. Ternyata saya salah, walaupun saya sering bolos tetapi saya tetap bisa mempertahankan prestasi saya, saya kembali dipanggil untuk naik ke panggung, yeeess…….
Setelah beberapa minggu libur, saya kembali masuk sekolah dan masuk ke kelas 5. Ketika saya kelas 5 ini, adik saya masuk ke kelas 1. Sehingga ibu saya mengantar adik saya masuk ke kelasnya. Di kelas 5 ini juga, saya mulai kembali untuk semangat belajar. Setelah beberapa bulan belajar di kelas 5, beberapa murid dipilih untuk mengikuti beberapa lomba. Diantaranya Fachnaz mengikuti lomba murid berprestasi, Rico mengikuti lomba matematika, Mulia Fuji mengikuti lomba IPS dan ternyata saya juga terpilih untuk mengikuti lomba sains. Setiap hari kami belajar ekstra bersama guru pembimbing kami agar hasil yang didapat maksimal. Sebulan setelah pemilihan itu, kami mengikuti lomba tersebut yang dilaksanakan di SDN 2 Cimahi.
Kami berangkat sekitar setengah tujuh. Setelah sampai di tujuan kami mencari ruangan dan masuk ke ruangan yang berbeda. Ternyata pesertanya itu wakil SD se-Kecamatan yang pesertanya itu 40 orang lebih. Awalnya saya ragu, tetapi guru saya memberi semangat juga. Saya juga teringat akan nasihat ibu saya sebelum saya berangkat agar saya harus berusaha maksimal. Akhirnya saya pun bersemangat. Sebelum dimulai saya mengambil nomor dan saya mendapat nomor 13. Lomba itu terdiri dari 3 babak, babak pertama yaitu mengisi 40 soal pilihan ganda dan menentukan 10 besar. Ketika itu saya mengisi dengan teliti dan akhirnya saya masuk ke 10 besar. Di babak kedua akan diambil 3 besar, soalnya yaitu menjawab pertanyaan yang diajukan juri, dan saya pun masuk 3 besar. Nah, di babak ketiga ini yaitu saya harus menjawab serta membuat praktek sederhana dari apa yang diajukan juri. Setelah semua babak selesai, nilai yang diperoleh diakumulasikan. Juara ketiga yaitu wakil dari SDN 2 Cimahi, juara kedua wakil dari SDN 2 Lembursawah, dan juara pertama yaitu wakil dari SDN 1 Lembursawah, yaitu saya sendiri. Saya tak menyangka menjadi juara pertama waktu itu.
Setelah beberapa hari semenjak lomba itu, akhirnya saya mengikuti lomba lagi yaitu tingkat kabupaten. Lomba ini diadakan di SDN Rambay. Waktu itu saya berangkat hanya dengan guru saya. Pada lomba kali ini hanya satu babak saja. Saat mengisi soal saya kurang yakin dengan jawaban saya dan betul saja saya tidak masuk ke sepuluh besar pun. Tetapi saya tetap bersyukur karena saya bisa mendapat ilmu yang lebih dari hasil lomba itu.
Setelah beberapa bulan, akhirnya hari kenaikan kelas di kelas 5 ini dilaksanakan. Ketika itu seperti hari kenaikan kelas sebelumnya pasti di sekolah sudah banyak para pedagang. Acara yang diadakan lebih meriah dari acara kenaikan kelas tahun sebelumnya. Ketika pembagian juara kelas akhirnya saya kembali dipanggil dan tahun ini saya mendapat peringkat kedua, saya merasa senang sekali bisa masuk dalam juara kelas lagi dan membanggakan orang tua saya.
Setelah hari kenaikan kelas itu seperti biasa libur. Setelah libur saya kembali masuk ke sekolah dan masuk ke kelas 6. Pertama masuk ke kelas, saya langsung duduk di bangku yang sudah ada kedua teman saya yaitu Yana dan Kastubi. Ketika guru saya masuk guru saya memberi pengumuman bahwa kelas kami mulai besok masuk siang karena sedang ada renovasi kelas di kelas 1 dan 2. Setelah itu hanya mencatat jadwal pelajaran dan pulang. Keesokan harinya saya berangkat ke sekolah siang. Setelah sampai di sekolah, saya melewati ruang kesenian ternyata sedang ada latihan gamelan dan saya diajak untuk ikut latihan. Disana juga sudah ada Andi, Rico, Solihin, Karlan dan Yana yang sudah latihan terlebih dahulu.
Setelah beberapa hari latihan, saya mendapat kabar bahwa kami akan mengadakan pentas seni daerah pada bulan depan. Ternyata teman-teman saya yang lain juga mengikuti latihan juga. Kami diberi tugas masing-masing, anak laki-laki bertugas untuk memainkan alat musik yaitu gamelan, sedangkan yang perempuan bertugas untuk menari dan bernyanyi. Selain itu, kami juga mendapatkan tugas untuk memainkan angklung untuk acara pembukaannya. Kami latihan dengan sungguh-sungguh agar bisa menampilkan  pentas yang menarik. Setelah beberapa minggu latihan, akhirnya tiba juga waktu kami untuk tampil. Ternyata kami tampil di Bandung dan kami berangkat ba’da dzuhur karena kami tampil sekitar setengah delapan malam. Untung saja di perjalan tidak macet sehingga tak lama kami berada di perjalanan. Setelah sampai di tempat tujuan, kami turun dan beristirahat sejenak. Setelah itu saya dan teman-teman berkeliling melihat keadaan sekitar. Ternayata disana banyak sekali tokoh wayang golek yang dipajang seperti di museum. Setelah kami berkeliling barulah kami makan dan bersiap-siap untuk tampil.
Seperti rencana awal, acara dibuka dengan permainan angklung yang disambut dengan tepukan penonton yang meriah. Setelah itu barulah acara inti yaitu pementasan seni yang terdiri dari drama, tari, lagu yang dipadukan menjadi suatu keindahan yang harmonis. Acara pun berjalan dengan lancar. Setelah kami selesai pentas, kami pun bergegas berganti baju dan bersiap pulang walaupun sudah larut malam. Di perjalanan pulang saya tertidur karena sudah larut malam dan tak terasa sudah sampai di sekolah lagi. Setelah sampai di sekolah, saya dan teman-teman tidak langsung pulang ke rumah masing-masing tetapi menginap dulu di sekolah. Barulah keesokan harinya saya dan teman-teman yang lain pulang ke rumah masing-masing.
Setelah pementasan tersebut saya pun kembali masuk ke sekolah seperti biasa dan tetap melanjutkan latihan gamelan namun tak seperti sebelumnya yang harus ekstra latihan. Tetapi suatu hari ketika saya hendak berangkat sekolah, seperti biasa saya menyebrang sendiri karena di sekolah saya tidak ada satpam, dan ketika menyebrangi jalan raya tersebut saya keserempet motor dan saya pun pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Orang tua saya pun menyusul saya ke rumah sakit, nampaknya mereka khawatir terhadap keadaan saya. Untung saja luka di kepala  saya tidak terlalu parah sehingga bisa langsung pulang hari itu juga. Setelah kejadian itu, saya tidak bersekolah selama seminggu, dan ketika luka saya sudah sembuh saya pun kembali masuk sekolah seperti biasa. Namun, karena saya kelas 6, saya pun mengikuti les yang ada di sekolah yang diadakan setiap sore. Setelah beberapa bulan berada di kelas 6, akhirnya saya dan teman-teman yang lain melaksanakan ujian nasional. Setelah ujian itu berlalu, saya kembali latihan gamelan untuk acara kenaikan kelas. Tak lama kemudian acara kenaikan kelas pun tiba dan pada acara kenaikan kelas itu diumumkan bahwa semua kelas 6 lulus. Saya merasa bahagia sekali karena bisa lulus, selain itu ternyata saya juga masuk tiga besar juara kelas lagi.
Setelah acara kenaikan kelas itu saya mulai bingung untuk melanjutkan sekolah saya ke Sekolah Menengah Pertama. Sebenarnya saya ingin sekali masuk ke sekolah negeri yang favorit waktu itu. Namun ternyata uang sekolah yang harus dibayarkan lumayan besar dan orang tua saya tidak bisa membiayainya. Akhirnya saya pun melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Cicantayan yang jaraknya lumayan jauh juga dari rumah saya. Kali ini saya pun sibuk mengurus keperluan saya untuk masuk ke SMP. Sebelum saya masuk saya mengikuti tes masuk dahulu di sekolah tersebut, dan hasilnya saya diterima di sekolah tersebut dan masuk tiga besar peserta dengan nilai tes tertinggi.
Sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah tersebut, seperti di sekolah lain sekolah saya pun mengadakan acara MOS (Masa Orientasi Siswa) dahulu. Dalam acara MOS tersebut dibagi beberapa kelompok dan ternyata saya sekelompok dengan beberapa teman SD saya, selain itu saya juga mendapat teman-teman baru. Seperti di sekolah lain, kegiatan MOS ini diawali dengan perkenalan kemudian pemberian materi-materi. Acara MOS tersebut ditutup dengan pembagian kelas, dan saya masuk ke kelas 7a. Beberapa teman saya juga masuk ke kelas yang sama dengan saya.
Jarak dari rumah ke sekolah yang baru ini lumayan jauh atau bisa dibilang jauh sih. Oleh karena itu, saya berangkat naik angkot. Walaupun naik angkot tetapi hanya sebentar saja. Sebab sebelum naik angkot saya harus jalan kaki dulu dari rumah ke jalan raya. Setelah itu barulah naik angkot. Setelah turun dari angkot pun, saya harus jalan kaki lagi lumayan jauh menuju ke sekolah. Kalau hanya jalan kaki saja kayaknya bisa 1 jam juga.Walaupun kadang-kadang saya juga tidak naik angkot, melainkan berjalan kaki dari rumah ke sekolah. Kalau dipikir-pikir sih capek juga tetapi karena saya tidak sendiri berangkatnya akhirnya tidak terasa capek juga. Saya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke sekolah itupun jika dengan naik angkot.
Hari pertama masuk di kelas 7a,  saya mendapat banyak teman baru. Sebelum saya mulai belajar di hari pertama saya mengikuti upacara dahulu. Setelah upacara selesai barulah saya masuk ke kelas dan duduk di bangku depan dengan teman saya yaitu Solihin. Hari pertama hanya menulis jadwal pelajaran, pemilihan ketua kelas dan pembagian piket yang dibimbing oleh guru wali kelas 7a yaitu Ibu Empip. Setelah itu, kami tidak langsung belajar tetapi membersihkan kelas bersama-sama. Setelah selesai membersihkan kelas saya dan teman-teman saya pulang. Keesokan harinya saya mulai belajar dan mendapat pengalaman yang baru. Seperti waktu itu saya ikut camping pramuka selama 2 hari 1 malam. Acara tersebut begitu mengesankan bagi saya karena ini adalah camping pertama saya. Selain itu saya juga pernah berbelanja dengan teman satu kelompok saya ke pasar. Saya dan teman-teman berbelanja untuk keperluan praktek Tata Boga.
Setelah beberapa bulan berada di kelas 7a ini, saya mengikuti UAS semester I setelah itu belajar seperti biasa dan saya juga mengikuti UAS semester II. Setelah UAS semester II ini, pembagian raport dilaksanakan. Waktu itu, harus orang tua yang mengambilnya. Oleh karena itu, ibu saya pun pergi ke sekolah untuk mengambil raport saya. Saya pun juga ikut ke sekolah. Setelah saya dan ibu saya masuk ke kelas, guru saya pun masuk ke kelas dan memberi beberapa nasihat kepada saya dan teman-teman saya. Setelah itu, barulah pembagian raport dan pengumuman juara kelas. Ternyata saya juara 1 di kelas saya ini. Sedangka juara 2 itu Ai dan juara 3 Dina. Saya senang sekali waktu itu sekaligus tidak percaya. Setelah pembagian raport itu, sekolah diliburkan dan masuk pada bulan depan.
Setelah libur selesai, saya masuk kembali ke sekolah dan saya menjadi salah satu panitia MOS pada tahun ini. Setelah acara MOS selesai, barulah pembelajaran dimulai seperti biasa. Namun sebelum masuk saya melihat dahulu daftar kelas yang baru, dan saya masuk ke kelas 8a. setelah melihat daftar kelas itu, saya berjalan menuju kelas 8a. setelah sampai di kelas, ternyata beberapa teman sekelas saya juga masuk ke kelas yang sama. Tetapi setelah dilihat-lihat ternyata siswa laki-laki di kelas 8a ini hanya 6 orang termasuk saya dari 40 orang siswa/i. Setelah itu, guru wali kelas saya datang dan memperkenalkan diri. Nama guru wali kelas saya ini adalah Ibu Siti Hamidah dan dia juga sebagai guru olahraga. Setelah perkenalan, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan ketua kelas dan pembagian piket. Setelah itu saya pulang. Tetapi sebelum saya pulang saya mencatat jadwal pelajaran dulu yang ditempel di mading sekolah. Ternyata disana juga ada teman saya yang biasa pulang dengan saya. Setelah saya tanya ke dia, dia pulang mau lewat mana, ternyata dia mau jalan kaki. Saya ikut saja dengan dia untuk pulang jalan kaki dan tidak naik angkot. Ternyata banyak juga teman-teman yang jalan kaki sehingga capek yang ada tidak terasa karena di sepanjang perjalanan kami mengobrol.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, belajar seperti biasa. Pada suatu hari, guru saya memilih saya dan beberapa teman yang lain untuk mengikuti olimpiade Sains tingkat SMP. Saya waktu itu kebagian dalam lomba astronomi, sedangkan Diana mengikuti lomba matematika, Dina mengikuti lomba fisika, dan Reres mengikuti lomba biologi. Tetapi karena peserta astronomi sedikit, akhirnya saya mengikuti lomba matematika bersama Diana. Waktu dibagikan soal, saya merasa bingung karena saya belum menghafal materi matematika itu, sehingga saya kalah. Tetapi Diana masuk ke sepuluh besar. Sedangkan yang lainnya sama seperti saya. Setelah mengikuti lomba itu, saya dan teman-teman itu jadi sering ikut lomba walaupun tidak menang. Tetapi ilmu saya bertambah setelah mengikuti lomba itu, karena sering ikut belajar bersama dengan sekolah lain. Di kelas 8 ini juga saya jarang mengikuti pelajaran. Karena saya terkena penyakit, ya walaupun tidak parah sekali tetapi saya tidak bisa berangkat ke sekolah. Di kelas 8 ini, saya jarang belajar (emang jarang belajar dari dulu juga, hhe) dan saya sering bermain dengan teman-teman saya yang ada di dekat rumah saya. Kadang kami ngaliwet dan main ke pegunungan, sampai-sampai waktu itu saya dan teman-teman dikejar anjing dari atas sampai ke bawah pegunungan itu. Badan saya terasa sakit dan banyak luka di kaki dan tangan saya, rasanya tuh perih…. Karena saya sering sakit dan main ini, sehingga ketika pembagian raport nilai saya turun dan saya tidak masuk juara kelas, tetapi tetap masuk sepuluh besar.
Setelah pembagian raport di kelas 8 itu, saya masuk ke kelas 9. Sebelumnya saya melihat daftar kelas dulu di mading, dan saya masuk ke kelas 9a. Setelah itu saya masuk ke kelas dan ternyata sebagian besar siswa kelas 9a ini adalah teman saya di kelas sebelumnya. Di kelas 9a ini tetap sama siswa laki-lakinya hanya 6 orang saja, walaupun ada yang beda. Setelah semua siswa masuk guru wali kelas saya masuk dan memperkenalkan diri, namanya Ibu Cucu Mulyati. Setelah itu, seperti biasa hanya pemilihan ketua kelas dan anggota-anggotanya, pembagian piket kelas dan membersihkan kelas. Setelah itu barulah pulang. Tetapi sebelum pulang, saya dan teman-teman menulis jadwal pelajaran terlebih dahulu yang ada di mading. Tetapi setelah diperhatikan jadwal pelajaran tersebut, kok hari sabtu gak ada jadwalnya? Setelah bertanya ke wali kelas saya, ternyata setiap hari sabtu libur. Saya dan teman-teman tidak percaya waktu itu kalau setiap hari sabtu libur karena di sekolah lain tidak ada yang libur. Tetapi hanya sekolah saya saja yang waktu itu libur pada hari sabtu di lingkungan dekat sekolah saya.
Keesokan harinya dan hari-hari berikutnya, saya belajar seperti biasa. Di kelas 9 ini saya harus bisa meningkatkan prestasi saya, karena ketika kelas 8 saya pernah mengecewakan orang tua saya. Saya mulai sering belajar walaupun saya juga sering main. Karena kelas 9 ini merupakan kelas terakhir di SMP, saya juga mulai mempersiapkan untuk ujian nasional. Karena di kelas 8 saya sering mengikuti lomba, di kelas 9 ini saya juga disuruh guru saya untuk mengikuti lomba, tepatnya olimpiade matematika. Bukan hanya saya saja yang mengikuti olimpiade tersebut, tetapi bersama Diana. Setiap hari saya dan teman saya itu belajar ekstra agar bisa maksimal ketika mengisi soal di olimpiade. Ketika olimpiade dilaksanakan, saya berangkat sendiri ke sekolah yang menjadi tuan rumah karena lumayan dekat dengan rumah saya. Setelah sampai disana, saya bertemu dengan teman saya dan melihat ruangan kami. Ternyata saya berbeda ruangan dengan teman saya. Setelah saya masuk, pengawas pun masuk dan saya duduk di kursi paling depan karena nomor peserta saya adalah 001. Setelah itu, pengawas membagikan soal dan saya mulai mengisi soal tersebut. Setelah selesai saya pun pulang ke rumah dan bersiap untuk bermain….
Keesokan harinya saya kembali masuk ke sekolah seperti biasa. Namun, karena saya pulang mengajinya siang dan angkot pun penuh semua akhirnya sesampainya di sekolah saya terlambat dan dihukum oleh guru piket. Itu merupakan pertama kalinya saya terlambat masuk ke sekolah. Setelah masuk ke kelas ternyata pelajaran sudah dimulai tetapi saya tetap diizinkan masuk dan mulai belajar seperti biasa.
Pada suatu hari guru saya mencari saya dan ternyata dia membawa kabar baik, bahwa saya masuk harus ikut olimpiade lagi karena saya lolos babak penyisihan. Saya tidak menyangka waktu itu. Karena olimpiade itu hanya beberapa hari lagi dilaksanakan, akhirnya persiapan saya pun kurang sehingga saya tidak masuk sebagai juara. Ya harus bagaimana lagi mungkin ini yang terbaik bagi saya.
Tak lama kemudian di sekolah diadakan try out. Try out yang pertama saya bisa mengerjakannya dan sepertinya teman-teman pun seperti itu. Dan ketika pengumuman hanya beberapa orang saja yang tidak lulus try out pertama, saya sih lulus, hhe. Try out kedua soalnya agak susah menurut saya, namun saya harus bisa mengerjakannya. Ketika pengumuman hanya setengahnya setengahnya saja yang lulus termasuk saya sendiri. Ketika try out yang ketiga, soalnya semakin sulit saja. Tetapi saya harus bisa mengerjakannya dengan maksimal, dan ketika pengumuman yang lulus hanya 12 orang saja termasuk saya.
Setelah beberapa kali mengikuti try out akhirnya tiba juga waktu saya untuk mengikuti ujian nasional. Hari pertama saya lalui dengan lancar, begitu juga dengan hari-hari berikutnya. Ketika pengumuman ujian nasional saya mendapatkan nilai yang cukup memuaskan, namun beberapa orang teman saya harus mengikuti ujian ulang karena nilai mereka kurang. Oh iya, karena waktu tahun saya itu, masih ada ujian ulang  sehingga yang nilainya kurang harus mengikuti ujian ulang.
Setelah pengumuman hasil ujian itu, saya mulai bingung harus melanjutkan sekolah saya kemana. Di satu sisi, saya ingin sekali masuk ke SMK negeri yang ada di kota saya, namun di sisi yang lain orang tua saya belum mampu untuk menyekolahkan saya ke sekolah tersebut. Akhirnya waktu itu saya daftar di SMK swasta di kota saya juga. Namun ketika pertama kali saya masuk saya harus membayar sejumlah uang untuk biaya pendidikan saya. Karena orang tua saya waktu itu belum mempunyai uang, akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah saya pada tahun itu dan berniat untuk melanjutkan sekolah saya pada tahun depan. Karena saya tidak melanjutkan pendidikan dan tidak mau merepotkan orang tua saya, akhirnya saya pun  membuka usaha kecil-kecilan dengan modal hanya 50 ribu rupiah saja. Setiap hari saya pergi ke grosir untuk membeli makanan kecil yang akan saya jual kembali. Hari demi hari akhirnya usaha saya semakin maju, dan modal saya pun bertambah. Namun karena saya sudah bosan, usaha saya diteruskan oleh kakak saya.
Beberapa bulan setelah saya keluar dari SMP, tepatnya pada tahun ajaran yang baru, saya mulai masuk sekolah kembali dan saya memilih untuk bersekolah di MA Yasmi. Disinilah saya mulai mencari ilmu kembali. Karena sekolah saya ini madrasah, pelajarannya pun banyak yang menyangkut keagamaan. Awal saya masuk seperti kebanyakan murid baru, pastilah mengikuti kegiatan MOS. Dalam kegiatan ini saya mulai beradaptasi dengan lingkungan baru saya dan berkenalan dengan teman baru. Setelah mengikuti kegiatan MOS, saya masuk seperti biasa yaitu mulai belajar. Namun di sekolah baru ini gurunya banyak yang bolos sehingga saya sering tidak belajar. Namun ketika kelas 10 ini, saya mulai menyukai pelajaran IPA lagi. Seminggu sekali biasanya saya berkunjung ke laboratorium untuk mengikuti atau hanya melihat-lihat isi laboratorium itu saja. Walaupun gurunya banyak yang suka bolos tetapi saya harus tetap belajar, kadang hanya membaca buku atau berdiskusi dengan teman yang lain.
Jarak dari rumah ke sekolah saya ini, sama seperti jarak ke SMP saya dulu. Namun ketika berangkat saya biasanya hanya jalan kaki karena tidak ada kendaraan seperti angkot, yang ada hanya ojeg. Jadi setiap hari saya berangkat jalan kaki sendiri kadang juga bersama dengan teman saya yang masuk di MTs yang yayasannya sama dengan sekolah saya. Setiap hari saya melewati sawah, karena itu merupakan jalan yang terdekat ke sekolah saya.
Di kelas 10 ini saya mengikuti kegiatan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan). Acara tersebut diadakan 2 hari 1 malam di sekolah saya. Acara tersebut juga merupakan pelantikan anggota OSIS yang baru. Di kelas 10 ini juga saya mulai beradaptasi dengan pelajaran yang baru, seperti pelajaran bahasa Arab yang baru saya temui lagi di sekolah ini.
Setelah beberapa bulan bersekolah, saya mengikuti latihan upacara adat yang akan ditampilkan pada acara kenaikan kelas. Setiap hari saya latihan dengan teman-teman yang lain yang juga mengikuti latihan tersebut. Awalnya saya susah untuk meniru gerakan-gerakan yang dicontohkan oleh pelatih, namun setelah beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga. Setelah beberapa mingu latihan, akhirnya hari kenaikan kelas pun tiba juga. Karena sekolah saya ini berada di suatu yayasan pendidikan yang terdiri dari TK, MDA, MI, MTs, MA dan Ponpes,  sehingga acara kenaikan kelas pun disatukan. Acara kenaikan kelas ini dilaksanakan 2 hari 1 malam. Hari pertama, acara karnaval keliling dari sekolah menuju jalan raya dan kembali lagi ke sekolah. Setelah itu, penampilan siswa/i TK dan MDA yang berpidato di atas panggung bergiliran, ada yang satu orang, dua orang bahkan empat orang. Setelah Isya, acara dilanjutkan dengan penampilan marching band dan beberapa drama yang diperankan oleh alumni bahkan oleh wali murid yang sekolah di yayasan ini.
Hari kedua, acara dilanjutkan dengan perpisahan yang diisi dengan upacara adat dan berbagai macam acara. Nah ketika hari kedua ini saya pun tampil, saya kebagian menjadi pagar bagus (pembawa umbul-umbul) sedangkan yang lain berbeda dengan saya. Untung saja acara tersebut berjalan dengan lancar dan tidak ada kesalahan fatal yang dilakukan. Setelah acara tersebut, barulah acara pembagian raport kelas masing-masing. Waktu itu saya masuk dalam peringkat tiga besar , yaitu peringkat pertama. Setelah acara kenakan dan pembagian raport, sekolah pun libur dan kembali masuk pada bulan depan.
Setelah libur beberapa minggu, sekolah pun kembali masuk. Waktu itu saya menjadi panitia MOS untuk siswa baru. Acaranya sih seperti biasa, namun hari keempat diadakan acara api unggun. Disini saya berbaur dengan adik-adik kelas saya yang ada di MA, maupun yang ada di MTs. Beberapa hari berikutnya sekolah masuk seperti biasanya.
Di kelas 11 ini, masih sama dengan tahun sebelumnya. Namun gurunya sudah sedikit yang bolos mengajar. Saya pun menjadi semakin bersemangat untuk bersekolah. Di kelas 11 ini pun saya mulai mengikuti lomba lagi seperti ketika SMP, namun beda jenis lombanya saja. Karena waktu di MA ini saya hanya mengikuti PORSENI saja, dan saya mengikuti jenis lomba puitisasi Alquran.
Lomba itu diadakan di MAN Cibadak dan saya berangkat dengan teman-teman yang lain naik angkot ke sekolah tersebut. Ketika sampai saya langsung masuk ke ruangan saja karena sudah terlambat. Awalnya saya merasa bingung sekali harus membuat puisi seperti apa. Dengan kurang yakin akhirnya saya pun membuat puisi juga. Ketika pengumuman ternyata saya mendapat juara pertama. Waktu itu benar-benar saya tidak percaya karena ini adalah pertama kali saya mengikuti lomba puisi.
Akhirnya saya ikut lagi lomba tersebut di tingkat kabupaten. Porseni  tingkat kabupaten ini diadakan di Surade jaraknya sangat jauh dengan rumah saya. Karena lombanya diadakan selama 3 hari, akhirnya saya menginap disana. Saya berangkat bersama guru saya dan beberapa peserta lomba yang mewakili KKM MAN Cibadak lainnya. Disini saya mendapat teman baru yang juga mengikuti porseni. Saya dan yang lainnya berangkat setelah dzuhur dan karena perjalanannya sangat jauh, kami beristirahat dahulu ketika adzan ashar dan melanjutkannnya setelah kami semua sholat. Sesampainya disana, ternyata sudah pukul setengah 7 dan kemudian kami sholat maghrib. Setelah itu kami makan, dan beristirahat agar besok bugar kembali.
Keesokan harinya, saya berniat untuk mandi. Namun ternyata kamar mandi yang digunakan hanya beberapa saja dan semuanya penuh. Akhirnya saya dan beberapa teman baru saya mencari kamar mandi yang ada di sekitar tempat tersebut. Ternyata tak jauh dari tempat kami ada sebuah masjid yang ada beberapa kamar mandi dan kami akhirnya ikut mandi disana secara bergantian. Begitu juga juga hari-hari berikutnya saya dan teman baru saya itu menggunakan kamar mandi yang ada di masjid itu. Setelah saya dan teman baru saya selesai mandi, kami kembali ke tempat kami menginap tadi. Kemudian kami siap-siap untuk mengikuti upacara pembukaan dahulu. Setelah acara pembukaan tersebut, kemudian istirahat dan saya mengikuti lomba yang saya ikuti setelah dzuhur. Setelah dzuhur kemudian saya pergi ke ruangan tempat lomba dilaksanakan. Setelah saya masuk, ternyata disana sudah ada beberpa peserta juga. Kemudian saya menunggu panitia dan juri masuk ke ruangan. Setelah panitia dan juri masuk, lomba pun dimulai. Ketika itu, diberi beberapa pilihan tema yang harus dipilih salah satu oleh peserta. Waktu itu, saya memilih tema akhlak. Seperti waktu lomba yang sebelumnya, saya masih saja bingung untuk menulis puisi. Namun tak lama kemudian saya menulis juga. Setelah selesai puisi yang saya buat dikumpulkan dan kemudian keluar ruangan.
Ternyata lomba kali ini selain menulis juga harus membacakannya. Padahal saya belum pernah sama sekali membaca puisi. Dengan kurang percaya diri akhirnya ketika nama saya dipanggil saya maju juga. Setelah itu lomba pun selesai dan saya melihat lomba lain, seperti voli, catur, pidato dan yang lainnya. Keesokan harinya masih sama dengan kemarin yaitu lomba-lomba final. Hari berikutnya barulah pengumuman dan saya mendapat juara ketiga dan KKM MAN Cibadak menjadi juara umum. Setelah acara pengumuman selesai, saya dan yang lainnya kembali pulang ke rumah masing-masing.
Setelah acara tersebut, saya kembali masuk sekolah seperti biasa. Oh ya, waktu kelas 11 ini saya sekolah masuk siang setelah dzuhur karena sedang membuat bangunan baru. Kadang pagi sebelum sekolah saya ikut dengan ibu saya ke sawah untuk memanen sawah orang dan diberi upah. Lumayanlah untuk jajan sehari-hari sih cukup. Suatu hari ketika di sekolah, guru saya berkata kepada saya bahwa saya harus mengikuti lomba di tingkat provinsi karena dua peserta di atas saya didiskualifikasi karena mereka sudah kelas 12, sedangkan lomba ini hanya untuk kelas 11.
Beberapa hari setelah pemberitahuan itu akhirnya saya berangkat untuk kembali mengikuti lomba yang diadakan di Cibinong. Saya berangkat dengan guru saya  karena yang lain sudah berangkat dahulu. Setelah sampai disana saya kemudian berkenalan dengan teman-teman baru dan istirahat karena saya sampainya malam. Keesokan harinya saya mengikuti lomba dan saya bingung waktu lomba disini karena ternyata hanya diberi waktu 15 menit saja. Saya pun menulis puisi dengan kurang percaya diri dan ternyata saya tidak menang. Namun saya mendapat banyak teman baru dan pengalaman tentunya. Setelah itu saya pulang ke penginapan dan keesokan harinya saya pulang kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, orang tua saya bertanya apakah saya menang, sayapun berkata seadanya. Walaupun saya tidak menang, orang tua saya tetap menyemangati saya.
Setelah itu, saya pun kembali ke sekolah. Ternyata waktu tak terasa, saya sudah mengikuti UKK nih di kelas 11 ini. Setelah mengikuti UKK, kemudian saya mengikuti latihan upacara adat seperti tahun sebelumnya. Tak lama kemudian hari kenaikan kelas tiba dan ketika pengumuman juara kelas saya masuk tiga besar lagi. Setelah kenaikan kelas kemudian seperti biasa libur.
Setelah libur, sekolahpun kembali masuk seperti biasa. Di kelas 12 ini selain saya sekolah saya pun ikut pengajian yang diadakan di yayasan tempat bernaung sekolah saya. Di kelas 12 ini, saya berangkat sekolah pagi hari kemudian pulang pukul 2 dan kembali ke sekolah untuk mengikuti kegiatan pengajian, saya menginap di pondok pesantren yang ada di yayasan saya ini dan pulang pada pagi hari kemudian kemnali lagi ke sekolah dan begitu seterusnya. Tak lama berada di kelas 12 ini, ujian nasional pun datang. Saya mengikuti ujian di MAN Cibadak karena murid di kelas saya kurang untuk mengadakan ujian nasional di sekolah saya.
Setelah ujian nasional, saya mulai bingung untuk menentukan hidup saya. Ternyata guru saya mendaftarkan saya bidikmisi. Setelah didaftarkan itu, ketika saya bertanya ke guru saya tentang snmptn ternyata guru saya tidak mendaftarkan sekolah saya dan waktunya pun sudah habis. Akhirnya saya mengikuti sbmptn, namun karena waktu itu saya sedang sakit, sehingga sbmptn pun saya tidak mengikutinya. Ujian mandiri ptn pun saya tidak mengikutinya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak melanjutkan studi dan memilih membantu guru saya mengajar di TK, mungkin tahun depan pikir saya.  
Setelah beberapa bulan saya mengajar di TK, suatu hari ada telepon dari Universitas Gunadarma bahwa saya diterima bidikmisi di jurusan teknik industri. Oh ya, waktu bidikmisi itu saya memilih Universitas Gunadarma untuk seleksi mandiri pts. Awalnya saya kurang percaya namun ternyata setelah saya bertanya ke teman saya yang juga kuliah disana dan mendapat bidikmisi juga akhirnya saya pun mengirim berkas ke Universitas Gunadarma.
Waktu itu saya berangkat sendiri walaupun ibu saya menyarankan agar saya diantar oleh kakak ipar saya, namun saya ingin mandiri. Awalnya saya bingung harus kemana tetapi teman saya memberi tahu saya tempatnya. Akhirnya saya berangkat juga dari Sukabumi menuju Depok seorang diri. Saya berangkat subuh naik kereta api dari Sukabumi ke Bogor, setelah itu saya naik KRL dan turun di stasiun Pondok Cina. Setelah sampai, saya mencari tempatnya ternyata tidak jauh juga. Setelah itu saya bertanya ke satpam ruangan kemahasiswaan dan satpam pun menunjukannya. Setelah tahu ruangannya dimana saya masuk dan bertemu dengan staff kemahasiswaan dan setelah berkas saya diterima, ternyata ada yang kurang.
Akhirnya beberapa hari setelahnya saya kembali untuk memberikan berkas yang kurang. Seminggu kemudian pengumuman penerima bidikmisi pun dikeluarkan dan saya Alhamdulillah masuk. Akhirnya saya pun bisa kuliah di Universitas Gunadarma dengan bantuan dari bidikmisi. Setelah pengumuman itu, saya kembali ke Universitas Gunadarma untuk diberikan pengarahan dan saya bertemu dengan teman-teman baru. Akhirnya saya pun mulai kuliah pada bulan September sampai sekarang. Saya senang sekali bisa kuliah namun saya juga harus menyelesaikan kuliah saya tepat waktu. Mudah-mudahan saya bisa menyelesaikannya tepat waktu. Aamiin….
Inilah cerita saya dari kecil sampai saya bisa masuk ke Universitas Gunadarma. Sebenarnya masih banyak yang belum saya ceritakan namun segini juga cukup, hhe J…. Terima kasih sudah mau membaca cerita saya.




MUTIARA HIDUPKU

Kau jaga diri ini
Kau rawat diri ini
Kau besarkan diri ini
Dari bayi hingga ku berdiri disini
Dengan penuh cinta
Dengan penuh kasih sayang
Tanpa mengharap balas jasa
Hingga kau korbankan semua

Jiwa yang kau korbankan
Membuatku hidup hingga sekarang
Raga yang kau korbankan
Membuatku merasa aman
Harta yang kau keluarkan
Membuatku tahu berbagai hal

Namun jika kuingat semua pengorbanan
Yang telah engkau berikan
Rasanya tak mungkin bisa kubalaskan
Walaupun seluruh dunia ini kuberikan

Mungkin…
Hanya lewat sajak ini
Aku dapat ungkapkan
Semua rasa terima kasihku
Semua rasa sayangku
Semua rasa kasihku
Atas semua jasamu
Atas semua pengorbananmu
Atas kasih sayangmu
Dan seluruh jiwa ragamu
Yang telah engkau korbankan untukku

Terima kasih ibu…
Terima kasih ayah…
Atas semua yang kau berikan
Atas kasih, sayang dan cinta yang kau curahkan
Pada diriku ini
Anakmu yang kau sayang

Terima kasih ibu…
Terima kasih ayah…
Berkat jasamu
Berkat pengorbananmu
Aku bisa seperti sekarang ini
Hanya doa yang bisa kupanjatkan
Kepada Tuhan semesta alam
Agar kau selalu diberi kesehatan
Oh Ibu…
Oh Ayah…
Tak ada sesuatu yang berharga bagiku

Karena kaulah muatiara hidupku