Selasa, 16 Juni 2015

TUGAS 2 PKN

AYAT-AYAT ADINDA
Poster film Ayat-Ayat Adinda
Jumat, 12 Juni 2015 pukul 12.30 WIB saya, Encep Suhendar, Almira (teman kami) dan anggota dari kelompok saya yang terdiri dari Agung Satria Arfana, Ines Adi Putra, Rizky Nuzul, Royman Simarangkir, Siti Hartinah, dan Tia Febrita pergi ke 21 Depok untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Kewarganegaraan dengan menonton film Indonesia, dan kami memilih film Ayat-Ayat Adinda.

Senin, 15 Juni 2015

Probabilitas


Probabilitas
Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi ilmu tentang probabilitas. Ilmu probabilitas adalah bagian dari ilmu

Distribusi teoritis


Distribusi Teoritis
Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi ilmu tentang distribusi teoritis. Distribusi teoritis atau distribusi probabilitas teoritis adalah

Keruncingan

Keruncingan
Pada kesempatan ini saya akan berbagi ilmu tentang kurtosis. Keruncingan atau kurtosis adalah

Puisi tuk kawan


Rinduku

Kuteringat akan masa-masa indah
Masa dimana kita saling bercerita
Bercerita kisah

puisi untuk ayah ibu


MUTIARA HIDUPKU

Kau jaga diri ini
Kau rawat diri ini
Kau besarkan diri ini
Dari bayi hingga ku berdiri disini
Dengan penuh cinta
Dengan penuh kasih sayang
Tanpa mengharap balas jasa
Hingga kau korbankan semua

Jiwa yang kau korbankan
Membuatku hidup hingga sekarang
Raga yang kau korbankan
Membuatku merasa aman
Harta yang kau keluarkan
Membuatku tahu berbagai hal

Namun jika kuingat semua pengorbanan
Yang telah engkau berikan
Rasanya tak mungkin bisa kubalaskan
Walaupun seluruh dunia ini kuberikan

Mungkin…
Hanya lewat sajak ini
Aku dapat ungkapkan
Semua rasa terima kasihku
Semua rasa sayangku
Semua rasa kasihku
Atas semua jasamu
Atas semua pengorbananmu
Atas kasih sayangmu
Dan seluruh jiwa ragamu
Yang telah engkau korbankan untukku

Terima kasih ibu…
Terima kasih ayah…
Atas semua yang kau berikan
Atas kasih, sayang dan cinta yang kau curahkan
Pada diriku ini
Anakmu yang kau sayang

Terima kasih ibu…
Terima kasih ayah…
Berkat jasamu
Berkat pengorbananmu
Aku bisa seperti sekarang ini
Hanya doa yang bisa kupanjatkan
Kepada Tuhan semesta alam
Agar kau selalu diberi kesehatan
Oh Ibu…
Oh Ayah…
Tak ada sesuatu yang berharga bagiku
Karena kaulah muatiara hidupku 

Pupuh

Pupuh merupakan karya sastra berbentuk puisi yang termasuk bagian dari sastra Sunda. Pupuh terikat oleh aturan (patokan) pupuh, berupa watek, guru wilangan, dan guru lagu. Watek adalah karakteristik isi pupuh. Guru wilangan adalah jumlah sukukata (engang) tiap larik/baris (padalisan). Sedangkan guru lagu adalah bunyi vokal akhir (sora panungtung) tiap padalisan. 
Terdapat 17 jenis puluh yang terbagi kedalam dua kategori, yaitu:  sekar ageung (4 jenis pupuh) dan sekar alit (13 jenis pupuh).Pupuh sekar ageung dapat dinyanyikan (ditembangkeun) dengan menggunakan lebih dari satu jenis lagu, sedangkan pupuh sekar alit hanya bisa dinyanyikan dengan satu jenis lagu.
Setiap pada (bait) ke-17 jenis memiliki jumlah padalisan yang berbeda, begitu pun dengan patokan pupuh berupa guru wilanganguru lagu, dan watek-nya pun berbeda. Di bawah selengkapnya bisa dilihat perbedaannya:



Sekar Ageung

1. Kinanti 

Watek:
Menggambarkan perasaan sedang menanti (nungguan), khawatir (deudeupeun), atau rasa sayang (kanyaah).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-u, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i



2. Sinom 

Watek:

Menggambarkan rasa gembira (gumbira) atau rasa sayang (kadeudeuh).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 7-i, 8-u, 7-a, 8-i, 12-a



3. Asmarandana

Watek:

Menggambarkan rasa asmara (kabirahian), cinta kasih (deudeuh asih), atau rasa sayang (nyaah).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-i, 8-a, 8-é/o, 8-a, 7-a, 8-u, 8-a



4. Dangdanggula

Watek:

Menggambarkan rasa kedamaian (katengtreman), keindahan (kawaasan), keagungan (kaagungan), atau kegembiraan (kagumbiraan).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 10-a, 8-é/o, 7-u, 9-i, 7-a, 6-u, 8-a, 12-i, 7-a




Sekar Alit

5. Pucung

Watek:
Menggambarkan rasa marah (ambek) terhadap diri sendiri, atau benci (keuheul) karena tidak setuju hati.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-u, 6-a, 8-é/o, 12-a



6. Wirangrong

Watek:

Menggambarkan rasa malu (kawiwirangan), malu oleh perilaku sendiri.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-i, 8-o, 8-u, 8-i, 8-a, 8-a



7. Maskumambang

Watek:

Menggambarkan rasa kesedihan (kanalangsaan), sedih dengan sakit hati.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-i, 6-a, 8-i, 8a



8. Ladrang

Watek:

Menggambarkan rasa lelucon (banyol) dengan maksud menyindir (nyindiran)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 4-a (2x), 8-i, 12-a



9. Balakbak

Watek:

Menggambarkan lelucon (heureuy) atau komedi (banyol).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
15-é, 15é, 8-o, 15-é



10. Magatru

Watek:

Menggambarkan rasa sedih, penyesalan (handeueul) oleh perilaku sendiri, atau menasehati (mapatahan).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-u, 8-i, 8-u, 8-i, 8-o



11. Lambang

Watek:

Menggambarkan rasa lelucon (banyol) tetapi banyol yang mengandung hal yang harus dipikirkan.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-a, 8-a, 8-a



12. Jurudemung

Watek:

Menggambarkan rasa bingung, susah dengan apa yang harus dilakukan (pilakueun).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-i, 8-a, 8-i, 8-a, 8-i



13. Gurisa

Watek:

Menggambarkan orang yang sedang melamun (ngalamun) atau melamun kosong (malaweung)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a, 8-a



14. Gambuh

Watek:

Menggambarkan rasa sedih (kasedih), susah (kasusah), atau sakit hati (kanyeri).
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
7-u, 10-u, 12-i, 8-u, 8-o



15. Mijil

Watek:

Menggambarkan rasa bersedih (kasedih) tetapi dengan penuh harapan.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
10-i, 6-o, 10-é, 10-i, 6-i, 6-u



16. Pangkur

Watek:

Menggambarkan rasa marah (ambek) yang tersimpan dalam hati atau menghadapi tugas yang berat.
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
8-a, 11-i, 8-u, 7-a, 12-u, 8-a, 8-i



17. Durma

Watek:

Menggambarkan rasa marah (ambek), besar hati (gedé haté), atau semangat (sumanget)
Guru Wilangan dan Guru Lagu:
12-a, 7-i, 6-a, 7-a, 8-i, 5-a, 7-i